Pengumpan:
Tulisan
Komentar

“Pihak KPR telah berbuat curang. Mereka melakukan kebohongan penghitungan di Fakultas Kedokteran. Panggil Ketua KPR ke sini ! “ Teriak Aji, mahasiswa Fakutas Kedokteran leting 2003, pada saat malam perhitungan suara pemilihan raya Unsyiah, pukul setengah tiga pagi, tanggal 22 Januari 2008. Lanjut Baca »

Tumpukan buku yang sudah kekuningan warnanya dibiarkan begitu saja terletak di ruangan itu. Beberapa masih berada pada raknya. Dan yang lainnya menumpuk membentuk seperti gunung. Ada beberapa jurnal, skripsi, ensiklopedia, buku berbagai judul di situ. Kebanyakan adalah buku edisi lama. Atau sering disebut buku tua atau kitab kuning oleh sebahagian mahasiswa. Tak jelas buku-buku itu mau diapakan. Apakah mau ditaruh kembali dalam sebuah ruangan perpustakaan baru, dibuang, atau dijual ke toko buku loak. Yang jelas, ruangan itu dibiarkan saja terbuka tanpa ada yang menjaga.

Lanjut Baca »

Bunyi-bunyian adalah sesuatu hal yang lumrah yang didengar oleh makhluk yang mempunyai alat pendengaran yang sempurna dan baik. Bunyi knalpot kendaraan, bunyi radio, bunyi buah mangga yang jatuh, bunyi orang yang berceramah, bunyi jejak kucing yang segera membuat tikus lari, karena ketahuan bahwa dia sedang diintai, dan sebagainya.

Lanjut Baca »

“Lihat nih. Biar para akhwat tahu, gimana kondisi di Aceh sebenarnya”, kata kawanku, Alimuddin ketika kami menaiki kapal penyeberangan menuju ke Sabang sembari menunjuk ke beberapa orang asing yang lalu lalang di kapal. Orang asing yang ingin berwisata ke Sabang.

“Ya. Biar para akhwat tahu. Bahwa Aceh tak seperti yang dia kira”, sahutku. Lanjut Baca »

Judul Film: Di Bawah Lindungan Ka’bah
Sutradara: Hanny R. Saputra
Penulis: Titien Wattimena & Armantono
Pemain: Herjunot Ali, Laudya Cintya Bella, Didi Petet, Jenny Rachman, Niken Anjani, Tara Budiman, Widyawati, Leroy Osmani
Produksi: MD Pictures

 

Satu lagi film bergenre drama religi yang diluncurkan di minggu terakhir Ramadhan lalu yang diberi judul Di Bawah Lindungan Ka’bah. Film ini terinspirasi dari novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang dikenal dengan Buya Hamka yang juga berjudul sama. Ini adalah film kedua yang diangkat dari judul novel ini setelah sebelumnya Asrul Sani mengangkat novel ini ke dalam film Para Perintis Kemerdekaan (judulnya terpaksa dimodifikasi atas permintaan pemerintah saat itu karena menjelang pemilu dan dikhawatirkan film ini akan menjurus pada partai berlambang Ka’bah). Film ini dibuka dengan adegan Hamid (diperankan oleh Herjunot Ali) dalam perjalanan pulang naik kereta api setelah menamatkan pendidikannya ke kampung asalnya.

Hamid adalah anak yatim yang dibesarkan oleh ibunya (Jenny Rachman) yang bekerja di tempat Engku Ja’far (Didi Petet). Engku Ja’far lah yang selama ini membiayai pendidikan Hamid hingga dia lulus dari Perguruan Thawalib di Padang Panjang. Engku Ja’far memiliki seorang anak tunggal perempuan, Zainab (Laudya Cintya Bella) yang biasanya membantu pekerjaannya dalam pembukuan. Hamid kemudian bekerja sebagai guru mengaji di kampungnya. Digambarkan bagaimana Hamid mulai merasakan perasaan cintanya pada Zainab melalui beberapa adegan misal Hamid mengirimkan surat dalam sabut kelapa yang dihanyutkan dari hulu sungai dan ditangkap Zainab di hilirnya, Hamid dan Zainab yang mengobrol di malam hari dengan sebuah pembatas berupa pagar kayu, Hamid dan Zainab yang bermain hujan di pasar, Hamid dan Zainab yang bermain di tepi pantai, dsb. Film ini akhirnya menjadi tak lebih dari sekedar film percintaan remaja berbau Islam dan jauh dari konsep cinta yang lebih dewasa yang digambarkan Hamka dalam novelnya. Dalam sebuah scene di tepi pantai diperlihatkan bagaimana kedua insan yang diam-diam saling mencintai ini menceritakan mimpinya, Hamid ingin naik haji ke Mekkah, sedangkan Zainab punya mimpi lain yaitu “Hamid, jika kau sampai ke muka Ka’bah, kutitipkan doa agar aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku,”, yang secara tersirat merujuk pada sosok Hamid.

Namun Ibu Hamid tidak begitu setuju dengan Hamid yang mencintai Zainab karena mereka berasal dari keluarga yang berbeda dan seharusnya Hamid bersyukur bahwa Ibunya masih dipercaya untuk bekerja di tempat Engku Ja’far. Di satu sisi Zainab juga dihadapkan pada ide perjodohan dengan anak saudara Ja’far yang sedang bersekolah di Jawa. Saat itu Ja’far baru saja meninggal setelah kapal yang membawanya dalam perjalanan ke Tanah Suci terbakar dan tenggelam. Pernikahan dengan sesama disaudara diyakini dapat menjaga keutuhan harta keluarga almarhum Ja’far. Zainab menolak ide perjodohan ini karena dia masih mengharapkan Hamid dan bahwa dia juga mampu menjaga dan mengelola peninggalan harta ayahnya karena selama ayahnya hidup Zainab sudah cukup banyak belajar tentang mengelola usaha ayahnya. Ibu Zainab, Mak Asiah (diperankan oleh Widyawati) berusaha membujuk Zainab bahkan dengan jalan meminta Hamid untuk membujuk Zainab untuk mengikuti permintaan ibunya itu. Hamid tidak berusaha menolak permintaan Mak Asiah. Hamid seolah-olah pasrah pada keadaan dan tidak berusaha mengejar cintanya kepada Zainab untuk dibawa ke ikatan suci pernikahan.

Beberapa waktu sebelumnya, hubungan Hamid dan Zainab sempat renggang karena Hamid diusir dari kampungnya karena saat berusaha menolong Zainab yang tenggelam, Hamid memberi nafas buatan. Hari itu, adalah hari pertandingan debat antara dua kelompok yang salah satunya dipimpin oleh Hamid. Zainab ingin menonton debat itu, sedangkan di waktu yang bersamaan dia harus menyelesaikan pencatatan keuangan. Setelah menyelesaikan tugasnya, Zainab memacu sepedanya dan mencari jalan pintas untuk dapat mencapai surau dalam waktu yang singkat. Malang baginya sebelum sampai ke surau, Zainab tidak melihat bahwa jalan yang dilewati tidak terhubung dan akhirnya Zainab tercebur ke dalam arus sungai. Temannya, Rosna yang mengikuti di belakangnya menjerit dan orang-orang di surau yang saat itu sedang menonton lomba debat segera keluar. Saat mengetahui bahwa yang tenggelam adalah Zainab, Hamid segera menceburkan dirinya ke dalam sungai dan berupaya mencari Zainab. Zainab ditemukan tapi tidak sadar. Hamid segera memberikan nafas buatan hingga akhirnya Zainab dapat sadar. Proses Hamid yang memberikan nafas buatan inilah yang kemudian menjadi puncak konflik. Hamid tidak dinggap pahlawan, tapi dinilai sebagai orang yang melanggar aturan adat dan agama dengan mencium perempuan yang bukan muhrimnya. Hamid kemudian dipanggil ke sidang adat, dan akhirnya keputusannya Hamid diusir dari kampung.

Bagian ini tidak ada dalam novel dan merupakan ide sutradara Hanny R. Saputra dan penulis skenario Titien Wattimena dan Armantono untuk memunculkan konflik ini. Hanny mengatakan bahwa konflik ini dimunculkan untuk menyiasati naskah Hamka yang ringkas, hanya sekitar 60 halaman dan cerita di novel itu datar sekali. Padahal menurut Hanny film butuh konflik yang jelas agar terlihat seru (Majalah Tempo, Edisi 5-11 September, hal:74).

Sejak klimaks ini, alur cerita mulai bergeser. Hamid kemudian bekerja sebagai kuli angkut di stasiun kereta dan dia sempat pulang ke kampungnya saat mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras, hingga akhirnya meninggal di pangkuannya dalam perjalanan pulang ke rumah dengan pedati kuda. Setelah ibunya meninggal, Hamid segera bergegas pergi meninggalkan kampungnya. Hamid berusaha pamit terakhir kalinya dengan Zainab, tapi Mak Asiah mengatakan bahwa Zainab sedang ke luar rumah, padahal Zainab di dalam. Zainab yang kemudian mengetahui bahwa Hamid datang, mengejarnya sampai ke stasiun. Zainab terlambat, kereta yang membawa Hamid telah berangkat setiba Zainab di stasiun.

Hamid terus berpindah-pindah tempat tinggal hingga akhirnya dikisahkan Hamid telah menetap di Mekah dan setiap hari beriktikaf di Masjidil Haram. Sementara itu, di Padang, salah seorang teman Hamid yang juga bekerja di tempat Zainab, Saleh (Tara Budiman) akan berangkat haji. Zainab menitipkan sebuah surat kepada Hamid melalui Saleh, “Biarlah surat ini menemui takdirnya”, kata Zainab saat ditanya bagaimana caranya menemukan Hamid di antara lautan manusia. Kondisi kesehatan Hamid di Mekah semakin memburuk, seiring dengan Zainab yang juga terus sakit-sakitan di kampung. Hamid juga mengirimkan surat pada Zainab dan tiba bersamaan dengan saat Saleh berjumpa Hamid di dekat Ka’bah. Hamid dan Zainab sama-sama membaca surat dari orang yang dicintainya itu, dan di akhir kisah, Hamid meninggal persis di pinggir Ka’bah dan Zainab meninggal di pelukan ibunya di tepi pantai pada saat yang bersamaan.

Film ini tentu saja jauh berbeda dengan novel aslinya. Beberapa hal yang mengganggu adalah adanya iklan beberapa sponsor seperti coklat, obat nyamuk, dan kacang. Dan hal yang anakronis lainnya yaitu saat pemberian bantuan nafas buatan. Setting film ini adalah tahun 1920-an dimana bantuan pernafasan darurat belum ditemukan. Teknik ini baru diperkenalkan di Amerika di tahun 1970-an. Dan juga dalam adat Minang tidak ada hukuman pengusiran. (Majalah Tempo, Edisi 5-11 September, hal:74).

Terlepas dari kekurangan dan kontradiksinya, film Di Bawah Lindungan Ka’bah yang menghabiskan anggaran hampir Rp. 24 miliar karena pembuatan set tahun 1920-an, pengambilan gambar yang berpindah-pindah dari Solok, Ambarawa, Yogyakarta, Semarang, Subang, dan Bayah, Banten, penggunaan teknologi computer generated image (CGI), dan produksinya sempat macet hingga 3 tahun dan berganti dari satu sutradara ke sutradara lain, adalah tontonan alternatif yang cukup menghibur. Terutama dengan akting rupawan dan popularitas pemain-pemainnya.

 

Tulisan ini sudah di muat di rubrik Tamaddun, koran Harian Aceh, edisi 18 September 2011.

 

 

Limited Edition

Sekalian Sidang Pembaca,

sila akses www.sindikatdokarim.wordpress.com atau klik Link Sindikat pada blog ini,

untuk melihat Tulisan Tentang Riset saya tentang Museum Tsunami.

Maaf. Tulisan itu tidak saya publish di blog saya ini.

Silakan berkunjung.

Terima Kasih.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.