<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bottom Up</title>
	<atom:link href="http://rizkihamid.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rizkihamid.wordpress.com</link>
	<description>Read, Write, Organize, Opposite, Think, Act</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Sep 2011 16:40:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rizkihamid.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bottom Up</title>
		<link>http://rizkihamid.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rizkihamid.wordpress.com/osd.xml" title="Bottom Up" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rizkihamid.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Di Bawah Lindungan Ka’bah yang “Beda”</title>
		<link>http://rizkihamid.wordpress.com/2011/09/18/di-bawah-lindungan-ka%e2%80%99bah-yang-%e2%80%9cbeda%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://rizkihamid.wordpress.com/2011/09/18/di-bawah-lindungan-ka%e2%80%99bah-yang-%e2%80%9cbeda%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 16:15:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Alfi Syahril Hamid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[di bawah lindungan ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkihamid.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Judul Film: Di Bawah Lindungan Ka’bah Sutradara: Hanny R. Saputra Penulis: Titien Wattimena &#38; Armantono Pemain: Herjunot Ali, Laudya Cintya Bella, Didi Petet, Jenny Rachman, Niken Anjani, Tara Budiman, Widyawati, Leroy Osmani Produksi: MD Pictures &#160; Satu lagi film bergenre drama religi yang diluncurkan di minggu terakhir Ramadhan lalu yang diberi judul Di Bawah Lindungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=68&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul Film: Di Bawah Lindungan Ka’bah<br />
Sutradara: Hanny R. Saputra<br />
Penulis: Titien Wattimena &amp; Armantono<br />
Pemain: Herjunot Ali, Laudya Cintya Bella, Didi Petet, Jenny Rachman, Niken Anjani, Tara Budiman, Widyawati, Leroy Osmani<br />
Produksi: MD Pictures</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Satu lagi film bergenre drama religi yang diluncurkan di minggu terakhir Ramadhan lalu yang diberi judul Di Bawah Lindungan Ka’bah. Film ini terinspirasi dari novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang dikenal dengan Buya Hamka yang juga berjudul sama. Ini adalah film kedua yang diangkat dari judul novel ini setelah sebelumnya Asrul Sani mengangkat novel ini ke dalam film Para Perintis Kemerdekaan (judulnya terpaksa dimodifikasi atas permintaan pemerintah saat itu karena menjelang pemilu dan dikhawatirkan film ini akan menjurus pada partai berlambang Ka’bah). Film ini dibuka dengan adegan Hamid (diperankan oleh Herjunot Ali) dalam perjalanan pulang naik kereta api setelah menamatkan pendidikannya ke kampung asalnya.</p>
<p>Hamid adalah anak yatim yang dibesarkan oleh ibunya (Jenny Rachman) yang bekerja di tempat Engku Ja’far (Didi Petet). Engku Ja’far lah yang selama ini membiayai pendidikan Hamid hingga dia lulus dari Perguruan Thawalib di Padang Panjang. Engku Ja’far memiliki seorang anak tunggal perempuan, Zainab (Laudya Cintya Bella) yang biasanya membantu pekerjaannya dalam pembukuan. Hamid kemudian bekerja sebagai guru mengaji di kampungnya. Digambarkan bagaimana Hamid mulai merasakan perasaan cintanya pada Zainab melalui beberapa adegan misal Hamid mengirimkan surat dalam sabut kelapa yang dihanyutkan dari hulu sungai dan ditangkap Zainab di hilirnya, Hamid dan Zainab yang mengobrol di malam hari dengan sebuah pembatas berupa pagar kayu, Hamid dan Zainab yang bermain hujan di pasar, Hamid dan Zainab yang bermain di tepi pantai, dsb. Film ini akhirnya menjadi tak lebih dari sekedar film percintaan remaja berbau Islam dan jauh dari konsep cinta yang lebih dewasa yang digambarkan Hamka dalam novelnya. Dalam sebuah <em>scene </em>di tepi pantai diperlihatkan bagaimana kedua insan yang diam-diam saling mencintai ini menceritakan mimpinya, Hamid ingin naik haji ke Mekkah, sedangkan Zainab punya mimpi lain yaitu “Hamid, jika kau sampai ke muka Ka’bah, kutitipkan doa agar aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku,”, yang secara tersirat merujuk pada sosok Hamid.</p>
<p>Namun Ibu Hamid tidak begitu setuju dengan Hamid yang mencintai Zainab karena mereka berasal dari keluarga yang berbeda dan seharusnya Hamid bersyukur bahwa Ibunya masih dipercaya untuk bekerja di tempat Engku Ja’far. Di satu sisi Zainab juga dihadapkan pada ide perjodohan dengan anak saudara Ja’far yang sedang bersekolah di Jawa. Saat itu Ja’far baru saja meninggal setelah kapal yang membawanya dalam perjalanan ke Tanah Suci terbakar dan tenggelam. Pernikahan dengan sesama disaudara diyakini dapat menjaga keutuhan harta keluarga almarhum Ja’far. Zainab menolak ide perjodohan ini karena dia masih mengharapkan Hamid dan bahwa dia juga mampu menjaga dan mengelola peninggalan harta ayahnya karena selama ayahnya hidup Zainab sudah cukup banyak belajar tentang mengelola usaha ayahnya. Ibu Zainab, Mak Asiah (diperankan oleh Widyawati) berusaha membujuk Zainab bahkan dengan jalan meminta Hamid untuk membujuk Zainab untuk mengikuti permintaan ibunya itu. Hamid tidak berusaha menolak permintaan Mak Asiah. Hamid seolah-olah pasrah pada keadaan dan tidak berusaha mengejar cintanya kepada Zainab untuk dibawa ke ikatan suci pernikahan.</p>
<p>Beberapa waktu sebelumnya, hubungan Hamid dan Zainab sempat renggang karena Hamid diusir dari kampungnya karena saat berusaha menolong Zainab yang tenggelam, Hamid memberi nafas buatan. Hari itu, adalah hari pertandingan debat antara dua kelompok yang salah satunya dipimpin oleh Hamid. Zainab ingin menonton debat itu, sedangkan di waktu yang bersamaan dia harus menyelesaikan pencatatan keuangan. Setelah menyelesaikan tugasnya, Zainab memacu sepedanya dan mencari jalan pintas untuk dapat mencapai surau dalam waktu yang singkat. Malang baginya sebelum sampai ke surau, Zainab tidak melihat bahwa jalan yang dilewati tidak terhubung dan akhirnya Zainab tercebur ke dalam arus sungai. Temannya, Rosna yang mengikuti di belakangnya menjerit dan orang-orang di surau yang saat itu sedang menonton lomba debat segera keluar. Saat mengetahui bahwa yang tenggelam adalah Zainab, Hamid segera menceburkan dirinya ke dalam sungai dan berupaya mencari Zainab. Zainab ditemukan tapi tidak sadar. Hamid segera memberikan nafas buatan hingga akhirnya Zainab dapat sadar. Proses Hamid yang memberikan nafas buatan inilah yang kemudian menjadi puncak konflik. Hamid tidak dinggap pahlawan, tapi dinilai sebagai orang yang melanggar aturan adat dan agama dengan mencium perempuan yang bukan muhrimnya. Hamid kemudian dipanggil ke sidang adat, dan akhirnya keputusannya Hamid diusir dari kampung.</p>
<p>Bagian ini tidak ada dalam novel dan merupakan ide sutradara Hanny R. Saputra dan penulis skenario Titien Wattimena dan Armantono untuk memunculkan konflik ini. Hanny mengatakan bahwa konflik ini dimunculkan untuk menyiasati naskah Hamka yang ringkas, hanya sekitar 60 halaman dan cerita di novel itu datar sekali. Padahal menurut Hanny film butuh konflik yang jelas agar terlihat seru (Majalah Tempo, Edisi 5-11 September, hal:74).</p>
<p>Sejak klimaks ini, alur cerita mulai bergeser. Hamid kemudian bekerja sebagai kuli angkut di stasiun kereta dan dia sempat pulang ke kampungnya saat mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras, hingga akhirnya meninggal di pangkuannya dalam perjalanan pulang ke rumah dengan pedati kuda. Setelah ibunya meninggal, Hamid segera bergegas pergi meninggalkan kampungnya. Hamid berusaha pamit terakhir kalinya dengan Zainab, tapi Mak Asiah mengatakan bahwa Zainab sedang ke luar rumah, padahal Zainab di dalam. Zainab yang kemudian mengetahui bahwa Hamid datang, mengejarnya sampai ke stasiun. Zainab terlambat, kereta yang membawa Hamid telah berangkat setiba Zainab di stasiun.</p>
<p>Hamid terus berpindah-pindah tempat tinggal hingga akhirnya dikisahkan Hamid telah menetap di Mekah dan setiap hari beriktikaf di Masjidil Haram. Sementara itu, di Padang, salah seorang teman Hamid yang juga bekerja di tempat Zainab, Saleh (Tara Budiman) akan berangkat haji. Zainab menitipkan sebuah surat kepada Hamid melalui Saleh, “Biarlah surat ini menemui takdirnya”, kata Zainab saat ditanya bagaimana caranya menemukan Hamid di antara lautan manusia. Kondisi kesehatan Hamid di Mekah semakin memburuk, seiring dengan Zainab yang juga terus sakit-sakitan di kampung. Hamid juga mengirimkan surat pada Zainab dan tiba bersamaan dengan saat Saleh berjumpa Hamid di dekat Ka’bah. Hamid dan Zainab sama-sama membaca surat dari orang yang dicintainya itu, dan di akhir kisah, Hamid meninggal persis di pinggir Ka’bah dan Zainab meninggal di pelukan ibunya di tepi pantai pada saat yang bersamaan.</p>
<p>Film ini tentu saja jauh berbeda dengan novel aslinya. Beberapa hal yang mengganggu adalah adanya iklan beberapa sponsor seperti coklat, obat nyamuk, dan kacang. Dan hal yang anakronis lainnya yaitu saat pemberian bantuan nafas buatan. Setting film ini adalah tahun 1920-an dimana bantuan pernafasan darurat belum ditemukan. Teknik ini baru diperkenalkan di Amerika di tahun 1970-an. Dan juga dalam adat Minang tidak ada hukuman pengusiran. (Majalah Tempo, Edisi 5-11 September, hal:74).</p>
<p>Terlepas dari kekurangan dan kontradiksinya, film Di Bawah Lindungan Ka’bah yang menghabiskan anggaran hampir Rp. 24 miliar karena pembuatan set tahun 1920-an, pengambilan gambar yang berpindah-pindah dari Solok, Ambarawa, Yogyakarta, Semarang, Subang, dan Bayah, Banten, penggunaan teknologi <em>computer generated image </em>(CGI), dan produksinya sempat macet hingga 3 tahun dan berganti dari satu sutradara ke sutradara lain, adalah tontonan alternatif yang cukup menghibur. Terutama dengan akting rupawan dan popularitas pemain-pemainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tulisan ini sudah di muat di rubrik Tamaddun, koran Harian Aceh, edisi 18 September 2011.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://rizkihamid.files.wordpress.com/2011/09/film-di-bawah-lindungan-kabah.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-69" title="film.di.bawah.lindungan.kabah" src="http://rizkihamid.files.wordpress.com/2011/09/film-di-bawah-lindungan-kabah.jpg?w=202&#038;h=300" alt="" width="202" height="300" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkihamid.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkihamid.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkihamid.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkihamid.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkihamid.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkihamid.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkihamid.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkihamid.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkihamid.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkihamid.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkihamid.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkihamid.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkihamid.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkihamid.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=68&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkihamid.wordpress.com/2011/09/18/di-bawah-lindungan-ka%e2%80%99bah-yang-%e2%80%9cbeda%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0832834643d39a35d93d34d5ab2f11fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rizki Alfi Syahril</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rizkihamid.files.wordpress.com/2011/09/film-di-bawah-lindungan-kabah.jpg?w=202" medium="image">
			<media:title type="html">film.di.bawah.lindungan.kabah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Limited Edition</title>
		<link>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/11/16/limited-edition/</link>
		<comments>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/11/16/limited-edition/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 01:14:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Alfi Syahril Hamid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Citizen Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[dokarim]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[sindikat]]></category>
		<category><![CDATA[tsunami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkihamid.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Sekalian Sidang Pembaca, sila akses www.sindikatdokarim.wordpress.com atau klik Link Sindikat pada blog ini, untuk melihat Tulisan Tentang Riset saya tentang Museum Tsunami. Maaf. Tulisan itu tidak saya publish di blog saya ini. Silakan berkunjung. Terima Kasih.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=56&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekalian Sidang Pembaca,</p>
<p>sila akses <a class="aligncenter" title="Sindikat Dokarim" href="http://www.sindikatdokarim.wordpress.com" target="_blank">www.sindikatdokarim.wordpress.com</a> atau klik Link Sindikat pada blog ini,</p>
<p>untuk melihat Tulisan Tentang Riset saya tentang Museum Tsunami.</p>
<p>Maaf. Tulisan itu tidak saya publish di blog saya ini.</p>
<p>Silakan berkunjung.</p>
<p>Terima Kasih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkihamid.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkihamid.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkihamid.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkihamid.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkihamid.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkihamid.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkihamid.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkihamid.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkihamid.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkihamid.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkihamid.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkihamid.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkihamid.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkihamid.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=56&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/11/16/limited-edition/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0832834643d39a35d93d34d5ab2f11fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rizki Alfi Syahril</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pertarungan Kekuasaan (Gerakan Kiri dan Kanan) di Jantong Hatee Rakyat Aceh</title>
		<link>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/09/27/pertarungan-kekuasaan-gerakan-kiri-dan-kanan-di-jantong-hatee-rakyat-aceh/</link>
		<comments>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/09/27/pertarungan-kekuasaan-gerakan-kiri-dan-kanan-di-jantong-hatee-rakyat-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 00:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Alfi Syahril Hamid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Citizen Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[KPR]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[pertarungan]]></category>
		<category><![CDATA[Unsyiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkihamid.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[“Pihak KPR telah berbuat curang. Mereka melakukan kebohongan penghitungan di Fakultas Kedokteran. Panggil Ketua KPR ke sini ! “ Teriak Aji, mahasiswa Fakutas Kedokteran leting 2003, pada saat malam perhitungan suara pemilihan raya Unsyiah, pukul setengah tiga pagi, tanggal 22 Januari 2008. Teriakan Aji menghentak puluhan mahasiswa yang ada di lantai satu gedung Biro Rektor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=34&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“Pihak KPR telah berbuat curang. Mereka melakukan kebohongan penghitungan di Fakultas Kedokteran. Panggil Ketua KPR ke sini ! “ Teriak Aji, mahasiswa Fakutas Kedokteran leting 2003, pada saat malam perhitungan suara pemilihan raya Unsyiah, pukul setengah tiga pagi, tanggal 22 Januari 2008.<span id="more-34"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Teriakan Aji menghentak puluhan mahasiswa yang ada di lantai satu gedung Biro Rektor Unsyiah yang sedang menunggu proses penghitungan suara pemilihan raya Unsyiah. Seharusnya penghitungan suara dimulai pada tanggal 21 Januari 2007 setelah semua tempat pemungutan suara resmi ditutup. Tetapi karena banyak kendala di tempat pemungutan suara dan di tempat akan dilaksanakannya penghitungan suara, sehingga pihak Komisi Pemilihan Raya, baru mulai melaksanakan penghitungan suara pada pukul 22.00 malam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Teriakan Aji segera mendapat balasan dari sekitar tujuh puluhan mahasiswa pendukung Hendra Koesmara, yang kebanyakan kader Lembaga Dakwah Kampus dan KAMMI, yang mengatakan bahwa Aji berbohong. Salah satu mahasiswa senior, Hendra Kurniawan, mahasiswa Fakultas Kedokteran, yang juga menjaga tempat pemungutan suara mulai dari pagi pemilihan, menjawab dengan suara keras bahwa tak ada kecurangan selama proses pemilihan. Para mahasiswa yang ada di gedung Biro lantai satu, segera berkerumun di pinggir tempat pemungutan suara, sambil memukul meja, berteriak agar Aji, segera keluar dari areal bebas mahasiswa di tempat penghitungan suara sedang berlangsung. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Keluar <em>ko</em>, <em>ko</em> bukan saksi, dan bukan panitia, <em>gak</em> ada hak <em>ko</em> perintah-perintah <em>tuk</em> panggil ketua KPR “ teriak para mahasiswa pendukung Hendra Koesmara dan Yanwar Fakhri. Sontak saja, suasana di tempat itu mulai memanas. Pihak Rektorat yang diwakili Pembantu Rektor III, Edi Nur Ilyas, turun -sebelumya beliau ada di lantai dua, di ruang kerjanya. Pihak Rektorat meminta agar mahasiswa bisa saling menjaga diri untuk menunggu tahapan akhir dari proses demokrasi terbesar di kalangan mahasiswa Unsyiah. Segera saja Aji digiring oleh Resimen Mahasiswa yang telah siaga di areal penghitungan suara, dan segera saja Aji dibawa kabur oleh teman-temannya yang khawatir Aji akan menjadi sasaran amuk massa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Penghitungan itu awalnya berjalan baik. Tetapi ketika menjelang tengah malam. Indikasi untuk terjadinya bentrokan fisik antara para pendukung masing-masing calon mulai tampak. Ada delapan calon presiden mahasiswa yang bertarung memperebutkan suara mahasiswa untuk menjadi Presiden Mahasiswa Unsyiah. Setelah serangkaian proses tahapan seleksi dan mengikuti peraturan yang telah ditetapkan, yang dimulai dari seleksi administratif, seleksi baca Alquran, dan Debat Kandidat, secara resmi pihak Komisi Pemilihan Raya, memutuskan bahwa yang akan bertarung secara resmi pada pemilihan tanggal 21 Januari 2008 untuk memperebutkan suara terbanyak dari mahasiswa Unsyiah tinggal lima calon. Yaitu Alja Yusnadi dari Fakultas Pertanian dengan nomor pemilihan 1, Yanwar Fakhri dari Fakultas Hukum dengan nomor pemilihan 2, Hendra Koesmara dari Fakultas Pertanian dengan nomor pemilihan 5, Alwin Palalo dari Fakultas Ekonomi dengan nomor pemilihan 6, dan Salbani Moesa dari Fakultas KIP dengan nomor pemilihan 8. Tiga calon presiden mahasiswa yang gugur akibat tidak mengikuti dan mematuhi seluruh ketentuan yang ditetapkan oleh pihak Komisi Pemilihan Raya yaitu Muhammad Muadz Munawar dan Said Aandy Saida, keduanya tidak mengikuti kegiatan debat calon presiden mahasiswa Unsyiah yang digelar Kamis (17/1) di Lapangan Tugu Darussalam. Sementara satu calon, Deny Saputra, dari fakultas Ekonomi, didiskualifikasikan akibat memanipulasi data KHS. Denny Saputra dan tim suksesnya juga telah meminta maaf kepada semua mahasiswa Unsyiah, atas kekeliruan yang dilakukan. Masing-masing calon punya tim sukses dan massanya sendiri. Yang pada malam penghitungan suara itu, datang, bersiap siaga di Gedung Biro Rektor Unsyiah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Tiap tahun pasti begini. Dikhawatirkan akan ada bentrok. Biasanya kalo dah ada indikasi calon yang diusung kalah, maka para pendukungnya yang ada, berusaha untuk menggagalkan proses penghitungan itu. Sehingga perlu diadakan pemilihan ulang. “ kata Benerdi, mahasiswa FKIP yang kujumpai malam itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kemarin harinya, tanggal 21 Januari 2008, mulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 17.00 dilaksanakan pemilihan raya mahasiswa Unsyiah untuk menentukan siapa yang akan menjadi Presiden Mahasiswa Unsyiah pada tahun 2008. Pemilihan ini dilakukan secara serentak di semua kampus Unsyiah. Mulai dari kampus Darussalam, kampus Kedokteran di<span> </span>RSUZA, kampus PGSD Lampeuneurut, kampus PGSD dan PGTK Setui. Pada PGSD Setui dan PGSD Lampeuneurut pemilihan dilaksanakan selama dua hari, karena pada hari pertama, tanggal 21, pihak panitia terlambat membuka tempat pemungutan suara sehingga tidak semua mahasiswa memilih. Pada tanggal 22, dibuka tempat pemungutan suara di kedua tempat itu selama setengah hari. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sontak saja suasana mulai tegang. Para pendukung Hendra Koesmara dan Yanwar<span> </span>Fakhri mulai siap siaga. Mereka semua bangun dari mushala yang ada di dekat tempat perhitungan suara, dan memisahkan diri dengan para pendukung Salbani Moesa, Alja Yusnadi, Alwin Palalo. “ Pisah, pisah. Biar jelas yang mana kawan, yang mana lawan”, teriak Hendra Kurniawan, mahasiswa kedokteran. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ <span>Kiri itu identik dengan ajaran Marxisme, atau lebih dikenal dengan sosialisme. Sosialisme berbeda dengan komunisme. Kiri atau sosialisme bukanlah suatu ideologi. Tapi mungkin hanya berupa aliran kepercayaan saja</span> .” Kata Sulaiman Tripa pada suatu malam, tanggal 19 Februari 2008 ketika kami bertemu dalam acara temu kader Forum Lingkar Pena Aceh dengan Helvy Tiana Rosa. Pertanyaan itu sengaja kutanyakan. Untuk mengetahui pendapat Sulaiman Tripa –penulis, yang juga mantan aktivis mahasiswa dan sekarang menjadi pengajar di fakultas Hukum Unsyiah- mengenai pergerakan Kiri di kedua kampus di Darussalam, IAIN Ar-Raniry dan Unsyiah.. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kiri dan Kanan adalah suatu <span>hal yang serba berpasangan (biner)</span>, yang ada di dunia ini. Seperti halnya ada hitam dan putih, baik dan buruk, murah dan mahal, pria dan wanita, dsb. Semua yang ada di dunia ini ada kebalikannya/lawannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><span><img src="/DOCUME~1/ALISYA~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="" width="556" height="5" /></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“<span>Selamat datang para pembangkang muda revolusioner di kampus yang penuh dengan kediktatoran dan otoriter</span>”. Begitu tertulis di spanduk merah yang ditempel di lapangan sektor Barat Unsyiah pada awal tahun ajaran mahasiswa<span> </span>baru tahun 2006. Spanduk itu tak memuat siapa atau organisasi apa yang memasang spanduk itu di situ. Tapi spanduk itu tak bertahan lama. Sekitar seminggu kemudian, kulihat tak ada lagi spanduk itu di situ. Dari warna latar spanduk yang berwarna merah, mahasiswa lama –leting 2006 ke bawah- pastinya tahu spanduk itu dari organisasi mana. Warna merah, identik dengan gerakan Kiri. Di Unsyiah, organisasi yang menjadi <em>leader </em>gerakan Kiri adalah SMUR (Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat). Organisasi yang dulunya menjadi basis gerakan Agus Wandi yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Rakyat Aceh.<span> </span>SMUR adalah underbouw PRA. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saat itu, tahun 2006, awal aku masuk ke kampus Unsyiah. Kampus yang dengan IAIN Ar-Raniry dijuluki dengan<span> </span><em>jantong hate rakyat Aceh</em>. Awal masuk tahun ajaran baru biasanya selalu terjadi konflik. Konflik kepentingan. Antara mahasiswa yang menginginkan dilaksanakannya orientasi pengenalan kampus atau ospek dengan mahasiswa yang menolak dilaksanakannya ospek. Pertentangan ini erat kaitannya dengan pertentangan antara Kiri dan Kanan. Kiri selalu ingin agar ospek dilaksanakan. Walau pihak rektorat melarangnya. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa tahun yang kerap terjadi penonaktifan dan pemecatan mahasiswa dari fakultas-fakultas yang kerap nekat, kukuh, dan menentang untuk tetap membuat ospek, biarpun pihak Rektorat telah melarang, <span> </span>seperti pada tahun 2005. Saat itu, mahasiswa fakultas Teknik tetap kukuh membuat ospek. Dan efeknya, beberapa pengurus diskorsing dari kuliah oleh pihak rektorat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Mereka sih asik aja diskors. Mereka pada kerja di NGO asing yang saat itu sedang butuh pekerja pada masa awal tanggap darurat tsunami. Beberapa mahasiswa sudah membeli kendaraan keluaran terbaru dengan uang jerih payah sendiri, dan mereka mapan. Malahan mereka mencibir para mahasiswa yang saat itu tidak diskors”, kata Sauki, mahasiswa Teknik saat kujumpai di pertengahan 2005.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Bila dilihat dari kader atau massanya, maka organisasi pergerakan mahasiswa yang Kiri terdiri dari mahasiswa yang selalu menolak atau selalu ingin menentang hal di luarnya, atau dikenal dengan oposisi. Di Unsyiah, pada tahun 2006, selain SMUR, juga terdapat Mahasiswa Peduli Keadilan, Mahasiswa Peduli Perdamaian Aceh, aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa dari Fakultas Hukum, Fakultas KIP, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, atau di IAIN Ar-Raniry dikenal dengan Forum Bem Fakultas, pada aktivitas gerakannya, gerakan Kiri selalu berusaha menentang Kanan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ <span>Kanan terdiri dari organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan agama</span> “, kata Rudi FX Gunawan, penulis yang kujumpai pada hari Senin, tanggal 18 Februari 2008 di Episentrum Ulee Kareng. Di Aceh, khususnya organisasi pergerakan mahasiswa, organisasi yang Kanan misalnya Lembaga Dakwah Kampus, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Pelajar Islam Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Organisasi tertinggi dalam tingkatan eksekutif di IAIN atau Unsyiah, yang dikenal dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEMA) IAIN Ar-Raniry dan Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Unsyiah, kadang kala menjadi organisasi yang Kiri, atau Kanan. Tergantung organisasi mana yang berhasil menempatkan kadernya sebagai pucuk pimpinan organisasi itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>“<span>Anarkisme tak selalu identik dengan Kiri. Yang Kanan pun bisa menjadi anarkis bila keadaan memaksa</span> “, tambah Rudi Gunawan ketika dalam perjalanan ke Hotel Medan pada hari Senin tanggal 18 Februari 2008. Pertanyaan ini beberapa waktu belakangan mengganjal pikiranku. Bahwa <span>apakah Kiri selalu identik dengan kekerasan atau tindakan anarkis ?</span> Pertanyaan ini cukup beralasan. Berdasarkan pengamatan selama ini, organisasi pergerakan mahasiswa yang Kiri, banyak melakukan tindakan yang anarkis, atau vandalis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Pada pemilihan presiden mahasiswa unsyiah tanggal 21 Januari 2008 kemarin, terjadi friksi atau perpecahan dalam massa pemilih, hal ini semakin menegaskan terjadinya perebutan kekuasaan antara Kiri dan Kanan. Gerakan Kiri diwakili dengan naiknya calon presiden mahasiswa yaitu Alja Yusnadi (SMUR dan MPK) dan Salbani Moesa (MAPPA). Dan gerakan Kanan diwakili oleh Hendra Koesmara (KAMMI), Yanwar (LDK Al-Ahkam), dan Alwin Palalo (HMI). Berdasarkan wilayah massa, pihak Alja Yusnadi mengklaim jumlah massanya terbanyak dari Fakultas Teknik, Hukum, dan Pertanian. Salbani Moesa yakin bahwa semua suara mahasiswa FKIP akan berhasil membuatnya menang. Hendra Koesmara, dengan jumlah massa yang terorganisir sebanyak seribu orang, yakin bakalan mampu meraih suara penuh di semua fakultas. Yanwar Fakhri, dari fakultas Hukum menjadi pemecah suara bagi kubu Alja Yusnadi, Yanwar diperkirakan akan menghambat perolehan suara yang banyak oleh kubu Alja Yusnadi di Fakultas Hukum, yang kebanyakan mahasiswanya menjadi aktivis gerakan Kiri. Alwin Palalo, yakin semua suara kader HMI yang ada di Unsyiah bakalan memilihnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Pada malam penghitungan suara, tim sukses dan pendukung dari Alja Yusnadi, dan Salbani Moesa berkoalisi. Para saksi kedua calon ini, sejak awal melakukan intervensi-intervensi yang mencoba merusak atau membatalkan penghitungan suara malam itu. Aji, mahasiswa FK yang tadi berusaha mengacaukan suasana, juga datang dari kedua pihak yang berkoalisi ini. Para tim sukses dan pendukung yang berkoalisi ini, melakukan tindakan vandalis, misalnya merusak atau mengempeskan ban kendaraan yang dimiliki oleh panitia dan pendukung lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Pada saat penghitungan, Alja Yusnadi berhasil mendulang kemenangan di fakultas Hukum dengan total 175 suara. Tapi bila dari segi kans massa, pihak Alja (Kiri) masih kalah dengan akumulasi gabungan suara dari Hendra Koesmara dan Yanwar Fakhri (Kanan), Yanwar memperoleh 95 suara dan Hendra memperoleh 98 suara. Alwin Palalo dan Yanwar Fakhri tidak berhasil mendulang kemenangan di satu tempat pemungutan suara pun. Di fakultasnya sendiri pun, Alwin cuma berhasil mendulang 194 suara, dan berada pada urutan kedua, di bawah Hendra Koesmara. Sedangkan Yanwar, di fakultasnya sendiri, Hukum, cuma berhasil memperoleh urutan ketiga perolehan suara terbesar, di bawah Alja dan Hendra. Salbani Moesa berhasil menang di wilayah PGSD Setui, PGSD Lampeneurut, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Hendra Koesmara meraih kemenangan mutlak di FKIP Kawasan Kampus, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Pertanian, Kedokteran, Kedokteran Kampus RSUZA, Kedokteran Hewan, MIPA. <span> </span>Secara akumulasi suara, Hendra Koesmara menang mutlak dari semua calon. Hendra meraih lebih dari tiga ribu suara, disusul dengan Alja Yusnadi yang mengekor di urutan kedua dengan perolehan suara sekitar sembilan ratusan. Kemenangan Hendra menjadi menjadi polemik. Beberapa hari setelah kemenangan Hendra disahkan, dan pihak Komisi Pemilihan Raya mengirim <em>release</em> ke media, Muhadzier M. Salda, mahasiswa Teknik Mesin leting 2002, yang juga pendukung Alja Yusnadi, segera menulis opininya, dan dimuat di Serambi Indonesia, dengan judul <em>Awak-Awak S</em></span><em><span lang="IN">ỏ</span></em><em><span lang="IN">et</span></em><span lang="IN">. Atau bila diindonesiakan, berarti Orang-Orang Itu Juga. Isinya lebih banyak perihal tentang kebosanan mahasiswa yang menganggap tidak adanya proses demokratisasi yang baik di Unsyiah. Karena, menurut Muhadzier, “ Sejak tahun 2001, mereka-mereka (aktivis Kanan) terus yang menjadi pemimpin di Pemerintah Mahasiswa Unsyiah”. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ <span>Yang ada cuma kebencian. Tak ada istilah digugat karena Kanan menang selalu, atau karena bayak aktivis Kanan yang menjadi kader partisan, karena. coba lihat, sekarang semua partai mencoba menjadikan mahasiswa sebagai kader partainya. Seharusnya pihak Hendra Koemara juga menulis, bahwa kemenangan Hendra, adalah sebuah kemenangan mutlak. Bukan karena kecurangan-kecurangan yang terjadi, atau karena adanya bantuan dari oknum tertentu”</span>, kata Sulaiman Tripa ketika kutanyakan pendapatnya mengenai polemik pada saat pemilihan raya Unsyiah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pada tanggal 26 Januari 2008, hari Sabtu, ada demo, di dekat Kantor Biro Rektor Unsyiah, <span> </span>oleh segelintir mahasiswa pendukung yang calonnya kalah dalam pemilihan raya yang hari Senin kemarin baru dilangsungkan, yang isi orasinya- seperti termuat dalam brosur yang dibagikan bagi mahasiswa yang melintasi- bahwa hasil Pemira Unsyiah perlu ditolak, dan perlunya dilaksanakan pemilihan ulang, dan dilaksanakan Sidang Istimewa untuk membentuk KPR yang independent dan profesional. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>“ Cara kita beda”, jawab Novan Rihardi, mantan menteri Sosial Masyarakat pada Pemerintah Mahasiswa tahun 2006. Ketika suatu sore, pertengahan Januari 2008, kutanyakan mengapa pihak Hendra tidak mencoba membuat opini atau tulisan balasan ke media yang isinya menyangkal semua opini yang menyudutkan Hendra. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Novan menambahkan “ Ki, <em>tau</em> <em>gimana</em> cara menangkap ikan hiu ?”, tanyanya padaku. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“<em>Gak</em>. Emang gimana ? Dan apa hubungannya dengan situasi politik di kampus saat ini?”, sahutku. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“Jelas ada hubungannya. Bila kita menangkap ikan hiu, kita tidak langsung mengangkat pancing kita. Karena kalau kita tergesa-gesa, <em>ntar</em> kailnya putus. Caranya yaitu benang kail kita ulur, kita putar perlahan-lahan mengelilingi kapal, ketika sudah agak lama, dan hiu menjadi capai, baru kita angkat kail kita. Dan segera kita tombak begitu hiu ada di atas kapal. Begitu juga cara kita berpolitik. Kita tak boleh tergesa-gesa. Kita (dalam hal ini Kanan) selalu berpikir bijak ketika akan bertindak. Selalu bermusyawarah dengan pihak pemimpin atas. Memikirkan analisis SWOT (Strength=kekuatan, Weakness=kelemahan, Opportunity=kesempatan/peluang, Threat=ancaman)<span> </span>atas apa yang mungkin terjadi bila kita bertindak. Bukannya kita takut. Atau mengiyakan. Ketika para pihak Kiri atau oposisi melancarkan serangannya untuk meruntuhkan kita. Tapi kita harus tenang. Ingat filosofi memancing hiu.“ </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Pihak Kiri berupaya mendapatkan pengaruh media untuk mendapat simpati dari masyarakat. Bahwa yang dilakukan oleh Kanan adalah sebuah kesalahan. Pihak Kanan jarang menanggapi berita yang berkembang, dan membiarkan isu berita itu menjadi angin lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>“ <span>Sosialis itu lebih kepada ajaran tentang keadaan sosial dan ekonomi. Bukan pada ideologi. Ideologi itu merupakan hasil dari proses pendewasaan diri</span> “ Kata Fozan Santa, pada suatu pertemuan di Tikar Pandan. <span>“ Ideologi itu adalah suatu hal yang mutlak ! Tak bisa diubah atau ditafsir ulang. Ajaran Marxis itu, pada dasarnya mungkin adalah hal yang utopis. Bila kita mendambakan bila kita hidup di dunia yang tanpa kelas. Tapi, ide pokok Marxis itu luas. Lebih pada isu kemasyarakatan. Yang berbeda dengan kapitalisme</span>”, tambahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>“ Agama itu percaya dulu, baru mencari. Sedangkan filsafat itu, mencari dulu, baru percaya”, kata Edi Miswar, penulis dan juga mahasiswa Pendidikan Bahasa Unsyiah, saat kutanyakan pendapatnya. “ Aku menjadi orang yang tidak berpihak. Pada Kiri ataupun Kanan. Tapi, satu hal. Aku sangat tertarik pada Kanan. Karena pernah pada suatu subuh, saat aku masih tidur di UKM Pers. Aku berjumpa dengan Affif (Presiden Mahasiswa 2006) dan pengurus lainnya. Affif menyalamiku, dan berkata “Suatu hal yang mungkin susah untuk dilaksanakan bagi kita umat Islam, khususnya generasi muda, yaitu shalat Subuh secara berjamaah”. Hal itu menyejukkanku. Apakah nantinya, bila orang yang Kiri yang berkuasa, akankah akhlak mereka seperti orang Kanan ?”, kata Edi pada penghujung sore itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>“ <span>Pengertian Kiri yang mereka (aktivis Kiri) maksud adalah penentang LDK</span>.”, kata Jofrishal, mahasiswa Unsyiah. “<strong><em>Coba lihat, dalam prakteknya, apakah gerakan mereka (Kiri) seperti yang diajarkan oleh ajaran sosialis, misalnya peduli dengan kasus yang terjadi pada masyarakat ? Selain cuma bisa berdemo. Apakah mereka melakukan pembinaan atau partisipasi pada masyarakat? Nonsens</em></strong>”, ujar Jofrishal. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>“ <span>Coba lihat. Saat ini. Ditempel instruksi oleh pengelola kampus, yang mengatakan bahwa dilarang berjualan di sepanjang kawasan kampus Darussalam. Dimana mereka ? Aktivis Kiri ? Bila mereka memang peduli, kan seharusnya mereka berupaya menentang instruksi itu. Tapi, coba lihat. Kan gak ada ? Mereka bukan sosialis, tapi kelompok Anarkis</span>”, tambah Jofrishal. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span><span> </span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkihamid.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkihamid.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkihamid.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkihamid.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkihamid.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkihamid.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkihamid.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkihamid.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkihamid.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkihamid.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkihamid.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkihamid.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkihamid.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkihamid.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=34&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/09/27/pertarungan-kekuasaan-gerakan-kiri-dan-kanan-di-jantong-hatee-rakyat-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0832834643d39a35d93d34d5ab2f11fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rizki Alfi Syahril</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perpustakaan (di/ter)abai(kan)</title>
		<link>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/09/27/perpustakaan-diterabaikan/</link>
		<comments>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/09/27/perpustakaan-diterabaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 00:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Alfi Syahril Hamid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Citizen Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkihamid.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Tumpukan buku yang sudah kekuningan warnanya dibiarkan begitu saja terletak di ruangan itu. Beberapa masih berada pada raknya. Dan yang lainnya menumpuk membentuk seperti gunung. Ada beberapa jurnal, skripsi, ensiklopedia, buku berbagai judul di situ. Kebanyakan adalah buku edisi lama. Atau sering disebut buku tua atau kitab kuning oleh sebahagian mahasiswa. Tak jelas buku-buku itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=31&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tumpukan buku yang sudah kekuningan warnanya dibiarkan begitu saja terletak di ruangan itu. Beberapa masih berada pada raknya. Dan yang lainnya menumpuk membentuk seperti gunung. Ada beberapa jurnal, skripsi, ensiklopedia, buku berbagai judul di situ. Kebanyakan adalah buku edisi lama. Atau sering disebut buku tua atau kitab kuning oleh sebahagian mahasiswa. Tak jelas buku-buku itu mau diapakan. Apakah mau ditaruh kembali dalam sebuah ruangan perpustakaan baru, dibuang, atau dijual ke toko buku loak. Yang jelas, ruangan itu dibiarkan saja terbuka tanpa ada yang menjaga.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span id="more-31"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“ Di luar negeri, kalau ada proses pembersihan atau renovasi perpustakaan, maka di sekitar buku-buku dan ruangan itu, dilingkari dengan <em>police line </em>dan dijaga ketat”, kata Azhari, peneliti hikayat sejarah Aceh. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ya. Di banyak sudut<span>  </span>ruangan lantai dua dalam gedung yang sedang direnovasi itu, terlihat banyak barang yang dibiarkan tergeletak begitu saja. Ada beberapa mesin tik, lemari, dan juga tumpukan buku di bekas ruangan perpustakaan itu. Beberapa tukang yang sedang sibuk bekerja merenovasi gedung itu ada di lantai satu. Tak jelas apakah akan tetap dibangun kembali perpustakaan itu atau tidak. Hari itu, sabtu (18/7) terlihat ada beberapa orang mahasiswa di situ. Mereka adalah staf pengurus perpustakaan jurusan Akuntansi. “ Kami sedang memilih buku yang layak untuk dapat ditaruh di perpustakaan jurusan. Tadi staf jurusan menyuruh kami kesini. “, kata Indra, salah seorang pengurus Perpustakaan Jurusan Akuntansi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Buku yang dipilih harus dibersihkan terlebih dahulu dari tebalnya debu yang telah menempel di kulit depannya. Siapa yang berani menyangka, bahwa banyak koleksi buku tua dan langka yang tak dicetak oleh penerbitnya dan menjadi rebutan para kolektor buku di pasar buku loak di Indonesia ada di situ. Salah satunya yaitu buku <em>Di Bawah Bendera Revolusi </em>karangan Bapak Bangsa Indonesia, Ir. Soekarno, ada di antara buku-buku yang dibiarkan tergeletak begitu saja. “ Kami juga tidak tahu buku ini mau dibawa kemana nantinya, apakah akan dimasukkan ke dalam perpustakaan baru, atau malah dibuang”, kata salah seorang pengurus yang ada di ruangan itu ketika ditanya mengenai kemana nantinya tumpukan buku itu dibawa.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ya. Budaya membaca buku dan juga menulis mungkin belum menjadi budaya bagi orang Aceh, atau orang Indonesia umumnya. Orang Aceh masih suka menjaga dan mewariskan budaya tuturnya. Bukan budaya tulisnya. Di kampus sendiri, bisa kita lihat berapa orang yang ada membaca buku tiap harinya, atau minimal membaca koran setiap harinya. Hal ini dapat kita perhatikan dari jumlah mahasiswa yang pernah mengunjungi perpustakaan, baik pustaka jurusan, pustaka fakultas, pustaka UPT Kampus, pustaka Wilayah NAD, atau pustaka lainnya. Hasilnya masih sedikit. Kebanyakan yang datang ke pustaka ketika sedang menyelesaikan tugas kuliah, atau sedang menulis skripsi. Perpustakaan menjadi tempat yang dijauhi. Layaknya kuburan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Akhir-akhir ini, pameran buku sudah menjadi agenda rutin yang ada di provinsi ini. Tapi animo masyarakat untuk membeli buku belumlah banyak. Apalagi mahasiswa. Mahasiswa kebanyakan masih membeli buku populer, bukan buku keilmuan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“<em>Gak</em> baca buku kok bicara revolusi atau mau mengubah bangsa. Mimpi <em>kaleee</em>”, celetuk seorang kawan.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkihamid.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkihamid.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkihamid.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkihamid.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkihamid.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkihamid.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkihamid.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkihamid.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkihamid.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkihamid.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkihamid.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkihamid.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkihamid.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkihamid.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=31&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/09/27/perpustakaan-diterabaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0832834643d39a35d93d34d5ab2f11fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rizki Alfi Syahril</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bunyi Merecon di Kampung kami</title>
		<link>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/09/26/bunyi-merecon-di-kampung-kami/</link>
		<comments>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/09/26/bunyi-merecon-di-kampung-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 17:04:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Alfi Syahril Hamid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Idea]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkihamid.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Bunyi-bunyian adalah sesuatu hal yang lumrah yang didengar oleh makhluk yang mempunyai alat pendengaran yang sempurna dan baik. Bunyi knalpot kendaraan, bunyi radio, bunyi buah mangga yang jatuh, bunyi orang yang berceramah, bunyi jejak kucing yang segera membuat tikus lari, karena ketahuan bahwa dia sedang diintai, dan sebagainya. Dalam ilmu fisika, setahu saya, alat pendengaran makhluk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=29&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bunyi-bunyian adalah sesuatu hal yang lumrah yang didengar oleh makhluk yang mempunyai alat pendengaran yang sempurna dan baik. Bunyi knalpot kendaraan, bunyi radio, bunyi buah mangga yang jatuh, bunyi orang yang berceramah, bunyi jejak kucing yang segera membuat tikus lari, karena ketahuan bahwa dia sedang diintai, dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span id="more-29"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Dalam ilmu fisika, setahu saya, alat pendengaran makhluk hidup mempunyai daya maksimum frekuensi pendengaran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Ada yang disebut infrasonik (frekuensi bunyi di bawah 20 Hz) dan ultrasonik (frekuensi bunyi di atas 20 kHz), dan alat pendengaran manusia yang normal hanya bisa mendengar bunyi yang frekuensinya berkisar 20 Hz sampai dengan 20 kHz. Rusaklah gendang telinga bila kita mendengar bunyi desingan pesawat jet tempur suprakencang. Makanya petugas bandara, dan juga kadangkala, para penabuh drum, memakai penutup telinga, biar gendang telinganya tidak rusak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Kadang kala kita beranggapan bahwa bunyi itu adalah hal yang biasa. Tak mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari. Tapi, rupanya, bunyi juga termasuk dalam salah satu kelompok polusi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Sesuatu hal disebut polusi bila berada dalam jumlah yang banyak pada satu waktu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Sampah rumah tangga, yang masih sedikit, bukanlah polusi. Tapi bila telah berkumpul banyak, dan sudah ditumpuk berhari-hari, barulah dikatakan polusi, dalam hal ini polusi bau. Karbon monoksida yang merupakan hasil pembakaran tak sempurna dari karbon dalam knalpot kendaraan kita, dan logam timbal yang ada dalam bensin kita, bukanlah suatu polusi. Tapi bila kita telah berada di jalan raya, di mana banyak kendaraan yang lalu lalang, yang terjadi akumulasi asap knalpot, barulah disebut polusi, polusi udara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Kadangkala polusi menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat, karena rupanya alam telah mulai menampakkan kerentaannya. Air di sungai mulai menyusut, sampah-sampah baik organik maupun organik bertebaran di sepanjang arus sungai. Bumi menjadi panas, karena pohon yang berfungsi sebagai penyerap karbondioksida terbesar, musnah sedikit demi sedikit. Kita membutuhkan lebih kurang lima hingga sepuluh tahun untuk menunggu tanaman tumbuh kokoh, tapi kita hanya butuh sepuluh menit saja untuk menebangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Kembali ke masalah bunyi. Rupanya ada bunyi-bunyian yang dianggap sebagi polusi bagi masyarakat sekitar, dan ini yang luput diperhatikan oleh masyarakat tapi tak luput didengar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Yaitu bunyi merecon.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Malam itu malam takbiran. Aku berkeliling kota Banda Aceh, bersama adik sepupuku.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Kubilang padanya, sembari tetap membawa motor, “ Nda, tahu <em>gimana</em> cara lihat orang Aceh yang kaya dengan yang tidak kaya ?”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">“<em>Gak</em> tahu, memangnya <em>gimana</em> Bang”, katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">“Coba lihat, berapa lama setiap rumah mampu untuk menyediakan merecon, kembang api, atau lilin buat menyenangkan anak-anaknya pada malam lebaran”!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">“Tak perlulah standar kemakmuran yang diterapkan oleh berbagai ahli ekonomi, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">lihat saja, berapa banyak</span><span lang="IN">, </span><span lang="EN-US">berapa malam,</span><span lang="IN"> dan dari jenis apa,</span><span lang="EN-US"> lilin, kembang api, atau merecon dibakar oleh anak-anak di setiap rumah yang ada di pelosok kota kita ini“ tambahku.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Orang Aceh sudah kaya-kaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Begitu asumsiku.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Mungkin, bila diukur dari berbagai standar yang diterapkan oleh IMF, Bank Dunia, ataupun standar Indonesia, orang Aceh banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Dahulu, ketika aku kecil, aku hanya mampu melihat merecon yang indah itu -yang memancarkan kilau warna-warni di kegelapan langit malam- melalui televisi berwarna yang dipasang di ruang santai rumahku.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Biasanya merecon itu kulihat di televisi pada perayaan Tahun Baru Masehi. Harganya mahal, kata kawanku. Sehingga mungkin jika dipasarkan di Aceh, orang Aceh tak mampu membelinya. Rupanya asumsi kawanku, <em>salah</em>. Kini, setelah beberapa tahun, rupanya model merecon itu –yang biasanya kulihat di televisi- mulai ada di pasaran merecon di Aceh, <strong><em>dan orang Aceh mampu membelinya</em></strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Aku tak tahu, apakah ini merupakan efek dari kehadiran bantuan-bantuan yang datang dari berbagai penjuru dunia ke Aceh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Mungkin –ini asumsi pribadiku saja- merecon merupakan salah satu perangkat psikososial yang dibawa oleh pihak donor, untuk membantu orang Aceh cepat melupakan musibah yang datang di penghujung tahun 2004.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Harga merecon di pasaran beragam. Tergantung model dan ukurannya. </span><span lang="EN-US">Model merecon misalnya merecon gasing, merecon kupu-kupu, merecon roket, dan merecon kembang api. Ukuran merecon mulai dari yang berukuran sebesar kelereng –biasa disebut merecon cabai-, hingga yang ukurannya sebesar anak berumur tiga tahunan. </span><span lang="IT">Harga merecon mulai dari seribuan, hingga mungkin lebih seratus ribuan</span><span lang="IN">, atau jutaan</span><span lang="IT">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Hitunglah paling banter dalam sehari uang yang dihabiskan oleh anak-anak untuk membeli mercon (dilengkapi dengan lilin dan juga kembang api) sekitar 30 ribuan. Bila dalam tiga hari? Berapa sudah uang yang terbuang ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Kadangkala orang tidak merasa rugi bila menghabiskan uangnya untuk membeli merecon, lilin, atau kembang api itu. </span><span lang="IN">Seperti halnya orang yang merasa tidak rugi menghabiskan uangnya untuk membeli rokok.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Kadangkala kita juga mungkin merasa sedikit terhibur saat melihat indahnya pancaran cahaya warna-warni di kegelapan malam itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Tapi, tidakkah kita yang berpendengaran sempurna tapi belum tentu baik, mendengarnya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Bunyi desis mercon yang ditembakkan dari bawah, bunyi merecon yang tiba di atas langit, dan meledak, tidakkah itu mengganggu kita?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Terlebih jika suatu saat, sebuah merecon cabai –merecon seukuran kelereng yang akan meledak jika dilemparkan ke lantai- yang mungkin dilemparkan oleh anak-anak di sekitar rumah kita, meledak tepat di pinggir kita secara mendadak!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Baru-baru ini saya mengunjungi Beureunun, tempat kawan umi saya. Seorang nenek langsung menangis ketika mendengar suara merecon yang ditembakkan siang itu oleh sekumpulan remaja, di wilayah Busu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Menangis, karena teringat bagaimana ketika konflik Aceh dulu, masyarakat Aceh sangat akrab dengan bunyi-bunyian tembakan, bunyi ledakan bom, bunyi erangan helikopter, dan pesawat perang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Mengapa orang Aceh cepat sekali lupa ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Mengen</span><span lang="IN">a</span><span lang="FI">i perihal lupa, orang Aceh jagonya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Orang Aceh cepat sekali lupa dengan <em>ie beuna </em>yang mengoyak peta daratan Aceh. Cepat sekali lupa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Dan muncul, berkembang lagi doa itu, ya, doa untuk didatangkan peringatan lagi oleh Sang Penguasa Alam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Kuingat dengan jelas, bagaimana dahulu, ketika Hari Raya Idul Adha awal tahun 2005, orang-orang Aceh yang terkena tsunami, belum sempat untuk memikirkan bagaimana harusnya merayakan Hari Raya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Orang-orang masih pada trauma, masih sedih, memikirkan musibah yang baru saja berlalu, dan belum sempat untuk memikirkan bagaimana caranya membeli baju atau kain sarung baru untuk dipakai ketika shalat </span><span lang="IN">Idul Adha</span><span lang="FI">, terlebih untuk memikirkan bagaimana jika sebaiknya ketika malam tiba, mereka akan membakar merecon.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Tapi kini, setelah beberapa bulan, bahkan tahun berlalu, orang-orang sudah mulai tahu bagaimana persiapan dalam menyambut sebuah hari raya, yaitu dengan perayaan pembakaran merecon, dan perayaan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Bagi yang berpendengaran normal, mungkin sulit membedakan bunyi ledakan bom, bunyi merecon, atau bunyi <em>beudee trieng</em>. Tapi tak ada yang mempermasalahkan itu, bu</span><span lang="IN">n</span><span lang="IT">yi itu seolah tak didengar. Tidakkah masyarakat takut, bila bunyi-bunyian itu, yang berfrekuensi tinggi, dan muncul secara mendadak, membuat orang terkejut, sakit jantung, dan meninggal di tempat. Tidakkah oleh para penikmat merecon itu sempat terlintas pikiran begitu di benaknya ?. Kayaknya tak ada. Dan ada juga yang membakar merecon di tengah malam. Waktu orang sudah tidur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Dor. Dor. Dor.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Keterangan :</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IT">ie beuna </span></em><span lang="IT">: tsunami</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IT">beudee trieng </span></em><span lang="IT">: meriam bambu</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkihamid.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkihamid.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkihamid.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkihamid.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkihamid.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkihamid.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkihamid.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkihamid.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkihamid.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkihamid.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkihamid.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkihamid.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkihamid.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkihamid.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=29&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/09/26/bunyi-merecon-di-kampung-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0832834643d39a35d93d34d5ab2f11fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rizki Alfi Syahril</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WISATA YANG ISLAMI. ADAKAH ?</title>
		<link>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/02/17/wisata-yang-islami-adakah/</link>
		<comments>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/02/17/wisata-yang-islami-adakah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 09:01:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizki Alfi Syahril Hamid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islami]]></category>
		<category><![CDATA[sabang]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rizkihamid.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[wisata islami<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=64&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Lihat <em>nih</em>. Biar para akhwat tahu, gimana kondisi di Aceh sebenarnya”, kata kawanku, Alimuddin ketika kami menaiki kapal penyeberangan menuju ke Sabang sembari menunjuk ke beberapa orang asing yang lalu lalang di kapal. Orang asing yang ingin berwisata ke Sabang.</p>
<p>“Ya. Biar para akhwat tahu. Bahwa Aceh tak seperti yang dia kira”, sahutku.<span id="more-64"></span></p>
<p>Saat itu kami sedang dalam perjalanan menuju Sabang untuk menghadiri acara Evaluasi dan Konsolidasi Kepengurusan Pemerintah Mahasiswa Unsyiah 2007. Sabang menjadi pilihan banyak pengurus, lainnya memilih ke Takengon, tapi kalah suara.</p>
<p>Hari itu Jumat, tanggal 8 Februari 2008, kapal Tanjung Burang berangkat ke Sabang dari Banda Aceh pada pukul 14.00 WIB, setelah shalat Jumat. Sesuai adat Aceh dan ketentuan Panglima Laot Aceh, bahwa mulai malam Jumat hingga sebelum Jumat adalah waktu untuk tidak beraktivitas di laut. Para nelayan Aceh menghormati hari Jumat dengan tidak melakukan kegiatan melaut, dan lebih memilih untuk memperbaiki jaring yang rusak, atau membuat jala yang baru, atau juga mempersiapkan segala logistik yang diperlukan untuk memulai aktivitas di laut setelah shalat Jumat. Sama halnya dengan orang Yahudi yang memilih untuk tidak melaut pada hari Sabtu.</p>
<p>Banyak orang yang memilih untuk tidak pergi shalat Jumat walaupun jarak mesjid dengan pelabuhan hanya sekitar satu kilometer. “ Takut ketinggalan kapal “, dalih temanku, Surya, yang juga ikut bersama rombonganku. Surya dan beberapa teman memilih untuk tinggal di pelabuhan dan menunggu kapal untuk segera berangkat. Mereka berasumsi untuk cuma melakukan shalat Zuhur saja atau menjamak shalat Zuhur ke shalat Ashar nantinya, ketika tiba di Sabang.</p>
<p>“Kemarin ramai sekali, banyak orang yang memanfaatkan libur Imlek dengan berlibur ke Sabang”, kata Efendi, pegawai di pelabuhan Ulee Lheu. Hari itu juga masih ramai. Banyak keluarga, mahasiswa, dan masyarakat awam, yang berniat pergi ke Sabang. Banyak kendaraan pribadi yang tak tertampung di kapal, dan harus menunggu keberangkatan dari Banda Aceh, esok paginya.</p>
<p>“ Sebenarnya kapal barang yang melayani trayek Ulee Lheu – Balohan dan sebaliknya ada dua. Namanya KMP Kuala Batee II. Tapi lagi bermasalah, karena kemarin ketahuan membawa kayu selundupan dari Nias. Sekarang kapal itu tergeletak begitu saja di Balohan. Nahkoda dan ketiga awaknya sudah ditangkap”, kata Rina, petugas sebuah puskesmas di Balohan ketika sore itu aku singgah ke rumahnya.</p>
<p>Sabang dan banyak daerah tujuan wisata lainnya di Indonesia, sedang berbenah. Mempercantik kawasan wisatanya. Karena Menteri Pariwisata Indonesia, Jero Wacik, menetapkan tahun 2008 ini sebagai tahun wisata Indonesia. Dengan slogan yang keinggris-inggrisan, Visit Indonesia Year. Hal ini untuk menarik minat para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri, untuk pergi berwisata ke daerah-daerah di Indonesia. Sabang memiliki slogan Visit Sabang Year, begitu yang kulihat pada hiasan gantungan kunci yang menampilkan gambar Pulau Weh, yang dijual di Balohan . Pihak Pemerintah Sabang, sebagai pihak yang berkepentingan, telah meresmikan kantor khusus di pelabuhan Balohan, pada 22 Januari 2008, yang mengurus tentang pariwisata di Sabang. Seperti pelayanan satu pintu tempat pengurusan izin usaha di Banda Aceh, atau KPTSP di Banda Aceh.</p>
<p>Munawar Liza Zainal, Walikota Sabang, berniat untuk memajukan pariwisata dan segala aspek yang bermanfaat untuk masyarakat Sabang. Baru-baru ini, dia menjajaki kemungkinan untuk bekerja sama membentuk <em>sister city</em> dengan Dortmund, sebuah kota pelabuhan di Jerman.</p>
<p>Sabang adalah sebuah kota yang luput dari imbas langsung konflik antara RI dan GAM di Aceh Daratan. Sabang cuma terkena imbas atas kurangnya wisatawan yang berkunjung karena situasi kondisi keamanan yang buruk. Dan ini membuat menurunnya pendapatan masyarakat yang hidupnya bergantung pada sektor pariwisata, mulai dari pemilik angkutan, pemilik wisma, <em>cottage</em>, atau <em>bungalouw</em>, penjual souvenir dan kuliner khas Sabang.</p>
<p>“Para aparat di sini pun paling kerjanya cuma menembak babi”, kata Syahrul, warga Balohan yang kutemui di akhir tahun 2007. Tak ada pemberontak GAM yang mengangkat senjatanya untuk berperang di sini. Pihak TNI AL pun cuma sekedar melakukan latihan perang rutin, biar alat perang yang dimiliki AL tidak karatan karena jarang dipakai. “ Pesawat Nomad milik AU yang jatuh di Ujong Kareung juga belum jelas karena apa”, tambahnya.</p>
<p>Sabang adalah sebuah tempat yang merupakan cermin langsung efek globalisasi yang disikapi dengan tidak siapnya tatanan masyarakat dan pendidikan masyarakat untuk menghadapi budaya luar.</p>
<p>“ Kalo akhwat lihat kita ngintipin bule lagi pada <em>pake</em> bikini, dipikirnya kita bandot”, kata Ali. Saat itu kami semua sedang berada di Sumur Tiga. Para lelaki sedang berenang di pantai, dan para perempuan duduk di atas sebuah dataran tinggi memandang pantai. Di kiri kanan pantai ada beberapa wisatawan asing yang sedang berjemur, sebagian lagi sedang menyelam. Temanku, Ali, menambahkan “ Susah ni. Cari pantai yang <em>gak</em> ada bulenya. Kita malah jadi berpikir jorok nih. Karena melihat mereka yang cuma memakai pakaian dalam”.</p>
<p>“ Ya <em>gak</em> mungkin lah”, sahut Doddy San Ismail, “ Ini kan kawasan wisata bebas, <em>gak</em> mungkin kalo kita buat aturan <em>gak</em> boleh ada bule”, tambahnya.</p>
<p>Kebanyakan pengurus Pemerintah Mahasiswa yang pergi ke Sabang adalah muslimah-muslimah berjilbab besar, atau lebih dikenal dengan panggilan akhwat, dan lelakinya adalah orang-orang yang dianggap aktivis dakwah kampus yang akrab dengan istilah ikhwan.  Para akhwat dan ikhwan ini biasanya menjadi panutan di kampus. Sebagai orang yang taat agama. Agak aneh juga ketika melihat para ikhwan dan akhwat mengunjungi tempat wisata yang didominasi oleh orang yang tidak menutup auratnya.</p>
<p>“ Islamkan”, kata Rahmadi. Saat itu aku dan ketiga kawanku sedang melakukan briefing panitia di sebuah cafe di dekat Sabang Fair, malam itu malam Sabtu. Rahmadi tiba-tiba mengatakan kata itu, karena saat itu datang seorang biarawati yang masih memakai baju dinasnya, ditemani dua orang wanita, untuk makan di cafe yang kami tempati juga. “ Tugas kita untuk memberi tahu mereka. Karena kita tahu”, sambung Fakhrul, yang duduk di sebelahku. Aku hanya diam saja.</p>
<p>“Pariwisata yang islami. Adakah ?” Begitulah, hatiku terus menerus bertanya hal ini. Ketika sabtu pagi kami mulai pergi berkeliling, maka aku khawatir dengan bagaimana persepsi teman-teman ketika melihat kondisi Sabang saat ini. “Ah. Silahkan filter sendiri”, sahutku dalam hati.</p>
<p>Malam minggu, semua pengurus yang cowok pergi ke Sabang Fair, atau dikenal juga dengan Pantai Paradiso. Suasana seperti pasar malam. Ramai sekali. Puluhan muda-mudi hilir mudik.</p>
<p>“ Emangnya gak ada Polisi Syariah di sini ya ?” Ali bertanya.</p>
<p>” Ada tuh kantornya. Di Kota Atas. Tapi orangnya <em>gak</em> tahu ke mana. “, jawabku.</p>
<p>Ali bertanya setelah melihat begitu bebasnya para pasangan pria dan wanita muda melintas di Sabang Fair. Ada juga yang memilih untuk duduk di dalam pondok- pondok kecil yang ada di sepanjang Pantai Paradiso. Penerangan di situ tak ada. Gelap. Entah karena pihak PLN tidak mengalirkan arus, atau entah karena pihak pengelola pondok sengaja tidak menghidupkan lampu di situ. Perempuan muda berpakaian seronok , pendek, tak memakai jilbab dan ketat, mudah dijumpai saat itu.</p>
<p>“ Enak ke Sabang, mudah kita dapat cewek”, kata Aidhil, di penghujung 2007.</p>
<p>Saat itu Aidhil dan kawan-kawannya pergi ke Sabang untuk mengikuti festival musik yang diadakan oleh sebuah perusahaan rokok. “Cuma tingkat kesetiaannya dipertanyakan”, tambahnya.</p>
<p>“Kebanyakan cewek yang keluar dan tak memakai jilbab, adalah para pelajar SLTP”, kata Dina, penduduk desa Aneuk Laot. “ Tapi <em>gak</em> semua cewek Sabang kayak gitu. Ada juga yang anak rumahan, dan memakai jilbab saat keluar rumah, dan berpakaian sopan”, tambahnya.</p>
<p>Hari minggu kami berkunjung ke tempat tujuan utama para wisatawan asing. Tempat yang terkenal karena keindahan panorama bawah lautnya. Iboih dan Gapang. Di Iboih dan Gapang, para wisatawan asing lalu lintas tanpa merasa risih, walau cuma memakai pakaian dalam. Padahal di situ telah ditulis himbauan dalam bahasa Inggris yang artinya anjuran untuk berpakaian yang sopan di tempat itu.</p>
<p>“Mungkin bule tu pikir di sini sama dengan di daerah asalnya. Semua serba bebas”, kata Surya, setelah memandang tingkah laku para bule itu.</p>
<p>“ Di <em>cottage</em> atas, ada beberapa wanita lokal yang bisa “dipakai”, “ kata Hasballah. Mahasiswa fakultas hukum yang kerap berkerja di Iboih ketika musim libur kuliah. “ Perempuan untuk servis lebih pengunjung”, tambahnya.</p>
<p>“Haah” Aku terkejut.</p>
<p>Kembali pertanyaan yang semula nyangkut di kepalaku melintas lagi, adakah wisata yang islami ? Kalau ada bagaimana caranya ?. Pikiranku terus berkecamuk</p>
<p>Aku jadi teringat pada alasan imum Mukim Lampuuk, Aceh Besar, yang memutuskan untuk tidak memperbolehkan pengelolaan kawasan wisata pantai Lampuuk selama tiga tahun setelah tsunami menerjang kawasan Lampuuk.</p>
<p>“ Dikhawatirkan bakalan banyak pengunjung yang datang untuk berbuat maksiat di pantai”, “ Maksiat itu undangan untuk datang lagi bala ke sini”, kata Imum Mukim Lampuuk.</p>
<p>“ Masyarakat serba salah. Kalo pantai tak dibuka, maka dia tak mendapat apa-apa untuk dimakan, karena sebagian besar penduduk hidupnya bergantung pada wisatawan di pantai Lampuuk. Tapi kalo dibuka, maka masyarakat takut pengunjung berbuat yang gak-gak di sini. Ya kayak kasus pemaksaan adegan mesum yang dilakonkan oleh seorang anak remaja karena paksaan dari beberapa orang yang amoral”, kata Yusuf, penjual kopi di warung dekat pantai Lampuuk.</p>
<p>Aku juga jadi bingung sendari, dan ketika hal ini kutanyakan pada kawan-kawanku yang pergi ke Iboih dan Gapang, mereka menjawab “ Ya mau gimana lagi ? Semua pihak harus saling kerja sama. Pemerintah, Polisi Syariah, Polisi dan TNI, Pengelola Tempat Wisata, Masyarakat Umum, semua harus saling bekerja sama. Saling mengingatkan. Toh itu bumi kita juga. Menutup diri dari pengaruh dunia ini juga tak mungkin. Pandai-pandai masyarakatnya lah yang memilah dan memilih”.</p>
<p>“ Entah lah. Doa aja”, jawabku sekenanya sembari berjalan di pinggir pantai Gapang.</p>
<p>Sabang, 8-11 Februari 2008</p>
<p>Rizki Alfi Syahril</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rizkihamid.wordpress.com/64/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rizkihamid.wordpress.com/64/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rizkihamid.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rizkihamid.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rizkihamid.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rizkihamid.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rizkihamid.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rizkihamid.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rizkihamid.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rizkihamid.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rizkihamid.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rizkihamid.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rizkihamid.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rizkihamid.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rizkihamid.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rizkihamid.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rizkihamid.wordpress.com&amp;blog=4609761&amp;post=64&amp;subd=rizkihamid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rizkihamid.wordpress.com/2008/02/17/wisata-yang-islami-adakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0832834643d39a35d93d34d5ab2f11fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rizki Alfi Syahril</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
